Tags: renungan-pagi

Archive for Tags

Pengenalan Sejati (Renungan Pagi: 05 Maret 2018)

Renungan 04 Mar 18 0

Sebuah pepatah klasik berbunyi, “Tak dikenal, tak disayang, tak disayang maka tak dicinta. Bahkan jika tak dicinta, maka pastilah hati dapat menolak kehadiran”. Pepatah ini relevan dengan situasi yang dialami Yesus di tanah kelahiran-Nya.

Injil menceritakan tentang penolakan Yesus oleh kaum-Nya. Penolakan ini menunjukkan mereka tidak mau menerima Yesus sebagai Mesias. Hal ini disebabkan karena mereka belum mengenal Yesus secara mendalam. Pengenalan mereka hanya terpusat pada Yesus sebagai anak Yusuf dan Maria. Anak dari keluarga sederhana. Dengan kata lain, mereka mengenal Yesus sebatas status sosial, sehingga panggilan dan tujuan kehadiran Yesus diabaikan oleh mereka. Hal itu nampak lewat sikap menolak dan tidak menghargai Yesus. Kita pun sering menolak Yesus lewat aktivitas yang tidak mencerminkan corak hidup-Nya sebagai teladan kita. Inijl ini menginspirasikan tiga hal penting sebagai pengikut Yesus. Pertama sikap pengenalan akan Dia. Pengenalan akan Yesus bukanlah hanya terarah pada status sosial, melainkan pada perutusan dan makna kehadiran-Nya. Yesus hadir dalam keadaan sederhana sebagai tanda kosolideran-Nya dengan manusia yang sangat sederhana. Kesederhanaan manusia nyata dalam ketergantungan dengan lingkungan, jabatan, sesama dan kepada Allah. Sederhana dan lemah menyebabkan manusia sering jatuh dalam dosa. Keadaan inilah yang menyebabkan Allah hadir dalam wujud manusia sederhana yaitu Yesus Kristus, Sang Mesias. Kehadiran Yesus merupakan upaya Allah untuk mengangkat kita dalam kesederhanaan supaya hidup kita bermakna dan menjadi sempurna sebagai anak-anak-Nya. Kedua adalah sikap mencintai Yesus. Cinta kepada Yesus berarti penyerahan diri secara total kepada-Nya. Penyerahan totalitas diri menunjukkan bahwa hidup sungguh disandarkan kepada penyelenggaraan Allah. Hal ini hanya terjadi apabila ada kesungguhan hati dalam mengenal Yesus dan menerima Dia sebagai Mesias. Ketiga adalah sikap mengikuti Yesus. Pengenalan dan cinta kita kepada Yesus membutuhkan bukti ataupun tindakan konkret. Sejatinya adalah kita dapat meneladani Yesus dalam mewartakan kebenaran. Hidup sebagai pewarta kebenaran menuntut kita untuk siap menghadapi tantangan, hinaan dan bahkan penolakan.

Sebagai pengikut Kristus, panggilan kita adalah melaksanakan kehendak Allah. Terkadang tantangan bahkan penolakan akan kita alami. Namun, Allah menghendaki kita untuk terus bertahan dan berjuang. Itulah bukti nyata pengenalan dan cinta kita kepada-Nya, sekaligus untuk itulah Yesus mengutus kita.

(Fr. Benediktus Basail – Lentera Jiwa)

Bait Allah (Renungan Pagi: 04 Maret 2018)

Renungan 03 Mar 18 0

Ada sisi lain dalam kehidupan manusia yang menunjukkan kurangnya penghargaan akan tubuh. Banyak orang merusak tubuh mereka dengan cara mengonsumsi rokok, miras, narkoba dan ada pula yang membuat tato pada tubuhnya. Hal ini seharusnya patut disesali. Sebab tubuh adalah aspek penting dari diri manusia. Yesus mengkritik cara hidup demikian. Seharusnya, kita menjaga tubuh kita untuk tetap sehat. Sehat jasmani dapat mengantar kita pada rohani yang sehat pula. Hendaknya kita menghadirkan Tuhan dalam diri kita, maka dari itu tubuh kita harus tetap sehat. Bagi Yesus sendiri, tubuh itu adalah Bait Allah.

Injil menceritakan tentang Yesus yang marah akibat orang Yahudi tidak menghormati Bait Allah. “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan” (Yoh. 2:16). Bait Allah dijadikan pasar dan bahkan praktek kejahatan lahir di Bait Allah karena adanya manipulasi harga barang. Bait Allah yang seharusnya menjadi pusat spiritual, simbol kehadiran Tuhan, sebagai identitas keyahudian dan karena itu harus sakral, ternodai oleh keegoisan dan kerakusan manusia. Yesus sendiri merasa terhina akibat praktek itu. Penghinaan terhadap Bait Allah menjadi penghinaan atas diri-Nya sendiri. Sebab bagi-Nya Bait Allah sama dengan diri-Nya sendiri. Yesus menantang orang Yahudi untuk merombak Bait Allah dan Ia akan membangunnya dalam tiga hari. Padahal, Bait Allah yang dimaksudkan Yesus yakni diri-Nya sendiri; Ia akan mati dan bangkit pada hari ketiga.

Diri Yesus adalah Bait Allah. Allah bersemayam di dalam diri-Nya. Maka, sebagai pengikut Kristus sudah sepantasnya kita menjadikan diri kita sebagai Bait Allah. Supaya diri kita menjadi tempat yang layak untuk Allah tinggal maka diri kita perlu dibersihkan setiap saat. Masa Prapaskah adalah saat yang tepat untuk membersihkan diri dari dosa. Ini kesempatan untuk mengintrospeksi diri. Mungkin kita belum mampu menjadikan tubuh kita sebagai Kenisah Allah. Kita seringkali merusaknya dengan mengonsumsi rokok, minuman keras, narkoba, dll. Kita mencemari diri dengan perbuatan cabul, keserakahan dan keegoisan. Belajar dari Yesus yang sungguh menghormati Bait Allah, mari kita menghormati diri sendiri dengan menyucikannya. Kita berusaha menghindari perbuatan yang merusak tubuh, agar Allah bisa hadir dan bersemayam dalam diri kita. Hidup kita pun akan sungguh-sungguh memancarkan kehadiran Allah.

(Fr. Simon Petrus Laian – Lentera Jiwa)

Terima Kasih Tuhan (Renungan Pagi: 02 Maret 2018)

Renungan 01 Mar 18 0

Bumi merupakan ciptaan yang indah dan teratur yang diciptakan oleh Allah. Namun, faktanya saat ini malah sebaliknya. Banyak tempat di bumi ini tidak terlihat indah dan teratur lagi. Banyak sampah berserakan dan terjadi kerusakan alam di mana-mana. Ini menyebabkan terjadinya krisis lingkungan hidup. Kesadaran manusia untuk menjaga lingkungan pun sudah sangat minim. Allah sudah menciptakan bumi dengan sangat baik, tetapi manusia tidak merawatnya dengan baik. Manusia kurang berterima kasih atasnya.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur. Para penggarap ini dipercayakan oleh tuan kebun untuk menggarap kebun anggur sang tuan. Tuan kebun sangat mempercayai para penggarap, sehingga ia berani menyewakan kebunnya kepada penggarap-penggarap itu. Namun, penggarap-penggarap itu tidak setia kepada tuan kebun. Hasil kebun yang seharusnya menjadi hak tuan, tidak diterima olehnya. Malahan, utusan-utusan yang dikirim oleh tuan kebun dibunuh oleh para penggarap. Bahkan anak dari tuan kebun sendiri dibunuh oleh mereka, karena ia adalah ahli waris dari tuan kebun itu. Akhirnya, tuan kebun pun akan marah dan membinasakan para penggarap itu.

Dalam perumpamaan ini, Yesus mau mengajarkan kita untuk tahu berterima kasih. Manusia harus bersyukur dan bersikap penuh terima kasih atas berkat yang sudah diterima. Ini berbeda dengan para penggarap yang tidak tahu berterima kasih. Mereka sudah diberikan tempat untuk bekerja, tetapi tidak mau memenuhi kewajiban mereka. Para penggarap kebun angggur merupakan gambaran dari orang Farisi dan kita yang tidak tahu berterima kasih. Tuan kebun sebagai gambaran dari Allah Bapa, ahli waris yang dibunuh para penggarap merupakan gambaran dari diri Yesus, sedangkan kebun anggur yakni bumi kita.

Sang Khalik senantiasa memberikan berkat bagi kita. Salah satunya yakni bumi tempat tinggal kita. Ia sudah memberikan bumi yang indah bagi manusia. Ia pun hanya mengharapkan sikap terima kasih dari kita. Sikap ini dapat diwujudkan lewat tindakan menjaga, merawat dan melestarikan lingkungan. Sikap ini sangat penting demi kelangsungan kehidupan di bumi. Bila kita telah bersikap demikian, kita tidak menjadi seperti para penggarap yang serakah. Kita menjadi penggarap yang setia, yang menerima Yesus sebagai Tuhan dalam hidup kita. Sudahkah kita berterima kasih?

(Fr. Christiano Mandagi – Renungan Harian Lentera Jiwa)

Kekuatan Doa (Renungan Pagi: 20 Februari 2018)

Renungan 19 Feb 18 0

Kehidupan rohani adalah salah satu unsur penting dalam kehidupan manusia selain kehidupan jasmani. Kehidupan rohani harus ditunjang dengan kebutuhan yang sesuai. Doa menjadi salah satu kebutuhan yang dapat menunjang kehidupan rohani itu. Berdoa adalah salah satu sarana untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Dalam doa, kita bisa mengungkapkan rasa syukur, keluh kesah dan permohonan. Berdoa dengan ketulusan hati berarti mengungkapkan kesungguhan bahwa kita ingin berbicara dan meminta pertolongan dari Tuhan.

Bacaan Injil hari ini menceritakan tentang Yesus yang mengajar para murid tentang cara berdoa yang baik dan benar. Dalam perkataanNya, Yesus mengingatkan kepada para murid untuk berdoa sesuai kebutuhan mereka saja tanpa harus bertele-tele. Yesus menegaskan bahwa “Bapa sudah tahu apa yang kamu perlukan sebelum kamu memintanya”. Doa Bapa Kami-lah yang diajarkan Yesus kepada para murid. Lewat doa Bapa Kami Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya suatu struktur doa yang baik dan benar. Yesus ingin mengatakan kepada murid-murid-Nya bahwa pertama-tama, jika mau berdoa, sapalah Allah Bapa dan kebesaran- Nya. Kemudian ungkapkanlah permohonan yang ingin diminta kepada Allah. Lalu meminta pengampunan atas segala kesalahan yang telah diperbuat dan memohon pertolongan Tuhan supaya dapat dibebaskan dari perbuatan-perbuatan yang jahat. Setelah berdoa Yesus ingin supaya para murid mengampuni kesalahan orang lain yang telah diperbuat kepada mereka, agar hati mereka bersih dari segala kebencian pada orang lain dan mereka diampuni oleh Bapa sendiri. Lewat doa Bapa Kami ini, Yesus mengajarkan agar dalam berdoa kita tidak berdoa hanya untuk diri kita sendiri. Artinya kita mengagungkan Allah dan juga tidak lupa dengan sesama.

Sebagai orang beriman pastinya kita sering berdoa. Setiap kali kita merasakan berkat, kesusahan, menginginkan sesuatu, kita pasti berdoa. Tapi, terkadang setiap orang cenderung berdoa dengan kata-kata yang panjang dan lama. Tidaklah benar jika doa dijadikan sebagai sarana untuk menyombongkan diri kepada orang lain. Berdoa bukan untuk menunjukkan kesombongan rohani dalam diri. Dalam masa Prapaskah ini, Yesus mengajak kita untuk bertekun dalam doa kepada Bapa. Yesus menegaskan supaya kita berdoa dengan baik seperti doa Bapa Kami yang Ia ajarkan kepada para murid-Nya. Maka jangan pernah berhenti berdoa!

Sementara – “Pilihan” – Kekal (Renungan Pagi: 15 Februari 2018)

Renungan 14 Feb 18 0

Hidup adalah sebuah pilihan. “Pilihlah cintamu dan cintailah pilihanmu” merupakan ungkapan sederhana namun mendalam tentang sebuah pilihan. Dalam setiap pilihan terkandung kekuatan dan arah ke mana tujuan hidup kita.

Bacaan-bacaan hari ini, baik Kitab Ulangan maupun Injil Lukas menunjukkan hal yang sama yaitu pilihan. Kitab Ulangan mengisahkan bahwa Allah adalah Mahakuasa dan telah menyiapkan segala sesuatu bahkan telah memberitahukan kepada manusia hal baik dan buruk, untung dan malang, suka dan duka, kebahagiaan dan penderitaan, dan sebagainya. Tinggal bagaimana manusia menentukan pilihan untuk hal-hal tersebut. Secara isitimewa bacaan Injil mengisahkan bagaimana Yesus mengajukan syarat yang mengundang pilihan dari para murid tentang apa yang harus dilakukan apabila mereka mau mengikuti-Nya. Yesus mengatakan bahwa setiap orang yang mau mengikuti-Nya harus menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti-Nya. Bahkan Yesus menunjukkan ganjaran-ganjaran yang setimpal ketika kita dengan setia menyatakan diri siap mengikuti Yesus. Semuanya tergantung pilihan dari kita. Dan kepada kita pun demikian, Allah telah menyediakan segala sesuatu dan melalui Yesus Kristus Tuhan kita, Allah telah menunjukkan konsekuensi dan ganjaran yang akan kita terima dari setiap pilihan yang kita perbuat.

Namun seringkali kita menjadi buta dan tidak dapat melihat dengan benar hal mana yang mendatangkan keselamatan dan hal mana yang tidak mendatangkan keselamatan. Pikiran dan hati kita dipenuhi dengan tawaran-tawaran duniawi yang sebenarnya hanya bersifat sementara saja. Ada orang yang mengira bahwa dengan memilih hal-hal duniawi maka mereka akan mengalami kebahagiaan sejati. Sebagai orang beriman, bacaan-bacaan hari ini mengajak kita untuk memilih pilihan yang kekal untuk hidup dan kebahagiaan abadi dengan mengikuti Kristus. Jika kita telah memilih Kirstus maka cintailah pilihan kita karena Kristus akan menyelamatkan kita.

Kemarin kita telah merayakan hari Rabu Abu sebagai tanda awal memasuki masa Prapaskah, masa pertobatan. Sebagai manusia kita memiliki dosa dan Allah pun menawarkan pertobatan kepada kita. Pantaslah kita memilih tawaran Allah untuk bertobat. Dengan pertobatan kita telah membuat pilihan sejati untuk menjadi suci. Dalam komitmen mulia itu kita bersedia mengikuti Kristus. Maka kita akan memasuki Paskah suci dengan sukacita dan bahkan kelak kita akan dibangkitkan bersama Kristus dan hidup bahagia di Surga.

Bertobatlah! (Renungan Pagi: 14 Februari 2018)

Renungan 13 Feb 18 0

Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” Ungkapan ini sering kita dengar ketika memasuki masa prapaskah. Ungkapan ini mengajak kita untuk membuka hati pada jalan pertobatan. Nabi Yoel dalam pewartaannya menyerukan pertobatan kepada orang Israel, dengan berkata: “Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia”. Seruan ini menandakan bahwa pertobatan tidak ada artinya tanpa ada hati yang penuh sesal. Pertobatan adalah awal yang mengubah untuk suatu hidup baru yang ditandai dengan perubahan dari dalam diri sendiri. Rabu Abu yang mengawali masa puasa ditandai dengan upacara pemberian abu di dahi. Abu memiliki makna simbolik sebagai barang yang dianggap remeh, tidak berharga, tanda perkabungan tetapi sekaligus menjadi ungkapan sesal dan tobat. Selain itu abu menjadi lambang akan ketakabadian dalam hidup ini.

Injil hari ini mengisahkan Yesus yang mengajarkan setiap orang untuk tidak menjadikan puasa sebagai beban. Tindakan memberi sedekah, berdoa atau berpuasa, hendaknya dilakukan dengan tulus hati, bukan untuk mendapat pujian dari orang lain melainkan untuk membangun kehidupan rohani. Yesus bersabda: “Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik” (ayat 6:16a). Yesus mengajarkan kepada para murid agar tidak seperti “orang munafik” yang bersedekah dengan tujuan agar dipuji orang, yang berdoa di tempat-tempat umum agar dilihat orang dan yang berpuasa dengan memasang wajah muram. Yesus menghendaki agar sikap dan perbuatan baik adalah tindakan tulus tanpa ada kepentingan lain.

Mengawali masa puasa dan pantang kiranya ditandai dengan pengorbanan diri dan bermati raga. Masa puasa ini mengajak kita berdoa dan berderma dengan melakukan Aksi Puasa Pembangunan. Aksi nyata itu di antaranya berupa kegiatan fisik dengan bekerja bersama masyarakat, menyisihkan sebagian harta atau uang untuk orang miskin dan berkekurangan, serta mengikuti pendalaman iman. Masa puasa bukanlah menjadi awal yang sudah biasa, tetapi awal yang mengubah untuk menjadi murid Kristus yang sejati. Sehingga pertobatan yang sejati seyogjanya ditandai dengan sikap hidup yang baru, seperti yang dikehendaki oleh Yesus. Kita tidak menjadi orang munafik melainkan menjadi murid Kristus. Murid yang tulus hati dalam menjalankan kehendak Tuhan dengan bertobat dan percaya pada Injil.

Tanda Keselamatan (Renungan Pagi: 12 Februari 2018)

Renungan 11 Feb 18 0

Setiap hari kita selalu melihat tanda dan terkadang kita juga membutuhkan tanda. Suatu tanda selalu memiliki fungsi menghadirkan sesuatu yang mewakili tanda itu. Misalnya awan hitam menandakan hujan akan turun, atau janur kuning yang terpampang menandakan adanya sebuah pesta. Tanda yang menghadirkan itu bisa membantu kita untuk merasakan, mengerti dan meyakini sesuatu.

Tetapi, mengapa Yesus dalam bacaan Injil hari ini menolak permintaan tanda dari orang Farisi? Bukankah itu akan membantu iman mereka kepada-Nya? Hal itu dikarenakan Yesus tahu bahwa orang Farisi tidak memiliki niat tulus untuk mengenal Yesus. Hati mereka tegar. Mata mereka buta. Sekalipun sudah melihat tanda-tanda yang dibuat oleh Yesus, namun mereka tetap tidak merasa dan melihat bahwa Yesus itu adalah Tanda Kehadiran Allah yang menyelamatkan. Dia yang ada di hadapan mereka adalah Tanda yang paling besar. Dengan menolak permintaan orang Farisi, Yesus mau mengajak mereka untuk dewasa dalam iman. Kedewasaan dalam iman adalah sebuah sikap yang tidak tergantung pada suatu tanda, tetapi lebih pada sebuah kesadaran iman akan karya dan kehadiran Tuhan dalam hidup serta penyerahan diri secara total kepada Tuhan.

Dalam hidup sehari-hari, kita mungkin bergumul dengan tanda-tanda yang dapat meneguhkan iman dan juga tanda yang dapat menggoyahkan iman kita pada Tuhan. Kita mengharapkan tanda besar dan pasti dari Tuhan. Kita menanti karya besar Tuhan. Dengan tanda dan karya besar itu, kita yakin akan lebih beriman kepada Tuhan. Jika pemikiran kita masih seperti ini, maka kita masih belum sadar bahwa Tuhan sebenarnya sudah menghadirkan tanda dan karya-Nya dalam hidup kita. Oleh sebab itu, kita perlu belajar melihat dan menyadarinya. Kita perlu belajar melihat tanda kehadiran dan karya Tuhan dalam setiap peristiwa hidup kita. Untuk dapat memahami kehendak Tuhan, kita membutuhkan hikmat. Dengan hikmat, kita dapat merasakan dan mengerti setiap tanda kehadiran Allah melalui peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Berbahagialah mereka yang tak melihat namun percaya! Demikian seruan Yesus. Kita menjadi orang-orang percaya bukan karena suatu tanda! Namun karena iman percaya di dalam nama-Nya.

Mohon Ampun (Renungan Pagi: 11 Februari 2018)

Renungan 10 Feb 18 0

Pada hari ini kita telah mendengar bersama tentang orang yang menderita penyakit kusta. Dalam bacaan pertama, orang tersebut diasingkan karena dianggap najis, tetapi dalam Injil orang yang sakit kusta disembuhkan. Pada zaman dahulu kala, pandangan orang bahwa orang yang kena penyakit kusta merupakan bentuk hukuman dari Tuhan. Mereka mengatakan bahwa karena orang itu berdosa atau dosa dari keluarganya. Mungkin pandangan yang demikian juga masih tertanam dalam diri kita. Kita mungkin beranggapan bahwa orang yang kena musibah entah itu sakit, usaha bangkrut dan lainnya, semuanya karena mendapat kutukan atau hukuman dari Tuhan. Berpola pikir demikian sebenarnya tidaklah salah, karena hal ini juga dapat mengantar kita untuk lebih dekat dengan Tuhan. Namun kita harus sadar pula bahwa setiap kesalahan dapat diampuni oleh Tuhan Allah.

Dalam bacaan Injil tadi kita telah mendengar bagaimana Tuhan Yesus menyembuhkan orang yang sakit kusta. Hal ini karena orang kusta tersebut mau datang dan memohon kepada Yesus untuk disembuhkan. Demikianlah seharusnya kita, jika kita melakukan suatu kesalahan kita harus berani untuk memohon ampun. Kita harus berani mengatakan maaf kepada sesama dan terlebih lagi kita harus berani meminta ampun di hadapan Tuhan. Rasul Paulus juga mengatakan dan menekankan bahwa kita harus melakukan segala sesuatu demi kemuliaan Allah. Memohon ampun berarti kita mau mendekatkan diri kita dengan Tuhan. Kita mau agar dosa dihapuskan sebagaimana orang yang sakit kusta tersebut disembuhkan dengan memohon kepada Tuhan.

Dalam hidup di dunia ini, kita perlu memiliki kepercayaan bahwa dosa kita pasti akan dihapus, jika kita datang memohon ampun kepada Tuhan terlebih dalam menerima sakramen tobat. Dengan melakukan demikian, berarti kita menjadi orang jujur. Artinya, jujur mengakui kesalahan dan mengaku semuanya untuk kembali ke dalam pelukan Tuhan. Pemazmur pada hari ini mengatakan dengan begitu indah, “Bersukacitalah dalam Tuhan dan bersorak-sorailah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah hai orang-orang jujur.” Kita semua adalah orang-orang benar. Kita semua adalah orang-orang jujur. Maka, kita perlu menyadari akan kesalahan kita dan mau untuk datang memohon ampun kepada sesama dan terlebih kepada Tuhan.

Hati yang Bersih (Renungan Pagi: 07 Februari 2018)

Renungan 06 Feb 18 0

Di sebuah desa terjadi kejadian sangat mengejutkan yang dialami oleh seorang pemuda. Dia dipandang dan dinilai oleh masyarakat setempat sebagai orang kaya, tekun, saleh, baik, terhormat dan jujur. Tetapi si pemuda itu terjerumus dalam sebuah tindakan kejahatan yaitu berzinah. Dia berhubungan gelap dengan seorang wanita yang adalah istri orang lain. Akhirnya, dia ditangkap oleh petugas keamanan desa dan diproses. Dia dijatuhi hukuman oleh desanya sendiri. Dia menderita juga karena hukuman social seluruh desa. Kejahatan pemuda ini sebenarnya tidak terjadi dengan tiba-tiba, melainkan sudah sejak lama direncanakannya.

Dalam bacaan Injil hari ini Yesus menegaskan kepada kita bahwa apa yang keluar dari hati orang, itulah yang menajiskannya. Sebab dari hati orang muncul berbagai macam pikiran jahat berupa perzinahan, hawa nafsu, iri hati, dan lain sebagainya. Semua tindakan jahat ini timbul dari dalam hati dan menajiskan orang. Hal ini menegaskan kepada kita bahwa ada banyak orang di dunia ini yang kelihatannya baik dan saleh, tetapi dari hati mereka tercipta berbagai macam kejahatan. Kelihatan banyak tersenyum tapi menyimpan dendam dan merencanakan kejahatan. Berlaku sopan di depan mata orang, tapi bercerita busuk di belakang. Ramah dalam kehidupan sehari-hari tapi ternyata adalah seorang teroris. Seperti pemuda yang nampak saleh dalam cerita di atas, tetapi dalam hatinya menginginkan suatu tindakan kejahatan yaitu perzinahan. Dalam menghadapi masalah tersebut, Kita semestinya belajar dari Ratu Syeba yang dikisahkan dalam bacaan pertama. Ia memiliki kerendahan hati sehingga datang untuk mendengarkan hikmat Salomo.

Dalam hidup ini yang semestinya menjadi pegangan bagi hidup kita yaitu memiliki hati yang suci dan bersih. Tentunya, hal ini menciptakan dan menghasilkan suatu keutamaan cintakasih. Sekalipun ada emas dan permata yang banyak, tetapi yang paling berharga dari itu semua adalah memperoleh hikmat dari Tuhan. Kasih Tuhan memampukan hidup kita untuk berjalan dalam terang hidup-Nya. Maka dari itu, percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik serta berlakulah setia. Dengan demikian, Tuhan akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.

%d blogger menyukai ini: