MENGEJUTKAN, 50 NAPI LOLOS, KEAMANAN LAPAS DIPERTANYAKAN!
Written by Radio Montini on Maret 11, 2025
Montiniradio – Sebanyak 50 narapidana berhasil melarikan diri menjelang waktu berbuka puasa, memicu kekhawatiran serius tentang sistem keamanan di dalam lapas tersebut. Hingga kini, 12 orang telah berhasil ditangkap kembali, sementara 38 lainnya masih dalam pengejaran oleh aparat kepolisian. (10/03/2025).
Insiden pelarian massal ini terjadi sekitar pukul 17.30 WIB, saat petugas sedang bersiap membagikan makanan berbuka puasa kepada para narapidana. Sejumlah tahanan diduga telah merencanakan pelarian ini dengan memanfaatkan kelengahan petugas. Menurut saksi mata, mereka merusak pagar belakang lapas dan melarikan diri ke arah perkebunan di sekitar wilayah Kutacane.
Lapas Kelas IIB Kutacane, Aceh Tenggara, yang memang dikenal mengalami kelebihan kapasitas dalam beberapa tahun terakhir. Peristiwa kaburnya napi ini terjadi hanya beberapa hari sebelum bulan Ramadan, yang biasanya menjadi momen di mana petugas lebih fokus pada pemberian remisi dan persiapan ibadah di dalam lapas.
Kapolres Aceh Tenggara, AKBP R. Doni Sumarsono, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengerahkan satu pleton Brimob untuk memperketat pengamanan dan mengejar napi yang masih buron. Selain itu, pihak Lapas Kutacane bersama Direktorat Jenderal Pemasyarakatan juga sedang melakukan investigasi internal guna mengungkap bagaimana insiden ini bisa terjadi.
“Kami sudah menangkap kembali 12 napi, dan operasi pencarian terus kami lakukan. Kami mengimbau masyarakat untuk melaporkan jika melihat orang yang mencurigakan di sekitar wilayah mereka,” ujar AKBP R. Doni Sumarsono.
Menurut beberapa laporan, pelarian ini dipicu oleh kondisi lapas yang sudah kelebihan kapasitas serta buruknya fasilitas di dalamnya. Lapas Kutacane yang seharusnya hanya menampung 150 orang, kini dihuni oleh lebih dari 400 narapidana. Beberapa napi yang tertangkap kembali mengaku bahwa kondisi di dalam lapas sangat tidak layak, sehingga mereka nekat melarikan diri.
“Sudah lama kami mengeluhkan fasilitas di dalam sini. Makanan tidak layak, kamar sempit, dan tidak ada udara segar,” kata salah satu napi yang berhasil diamankan kembali.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara sebelumnya telah menyiapkan lahan hibah untuk pembangunan lapas baru, tetapi proyek ini masih belum terealisasi. Bupati Aceh Tenggara, Salim Fakhry, menyatakan bahwa pihaknya akan segera mendorong percepatan pembangunan lapas baru untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
“Kami telah menandatangani hibah tanah untuk lapas baru, tapi realisasinya masih terganjal birokrasi. Insiden ini harus menjadi peringatan bagi semua pihak agar segera bertindak,” ujar Salim Fakhry.
Insiden serupa sebelumnya juga pernah terjadi di beberapa lapas lain di Indonesia, termasuk di Lapas Tangerang pada 2021 yang mengalami kebakaran hingga menewaskan 41 napi. Pelarian massal dari lapas bukanlah hal baru, dan sering kali berakar pada kelebihan kapasitas, kurangnya pengawasan, serta lemahnya infrastruktur keamanan.
Kasus kaburnya 50 napi dari Lapas Kutacane ini menjadi tamparan keras bagi sistem pemasyarakatan di Indonesia. Jika langkah konkret tidak segera diambil, bukan tidak mungkin kejadian serupa akan terulang kembali di berbagai wilayah lainnya. Masyarakat kini berharap pemerintah dan pihak berwenang bisa segera meningkatkan keamanan serta memperbaiki kondisi di dalam lapas sebelum terjadi insiden yang lebih buruk.
(N Denlino)