Narasi Sejarah Baru : Antara Objektivitas dan Kepentingan
Written by Radio Montini on Mei 15, 2025
Montiniradio – Pemerintah Indonesia resmi memulai proyek penulisan ulang sejarah nasional dengan melibatkan lebih dari 100 sejarawan dari berbagai perguruan tinggi. 15/05/2025
Proyek ini ditargetkan rampung pada 17 Agustus 2025, bertepatan dengan peringatan 80 tahun kemerdekaan Indonesia. Salah satu fokus utama adalah memasukkan periode pemerintahan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden ke-7 Joko Widodo, yang sebelumnya belum banyak tercakup dalam buku-buku sejarah resmi.
“Ini bukan sekadar pembaruan data, tapi upaya penyusunan ulang narasi sejarah agar lebih faktual dan jujur, tanpa menghilangkan konteks politik yang menyertainya,” ujar Prof. Susanto Zuhdi, Ketua Tim Sejarah Nasional
Meski demikian, muncul kekhawatiran dari sejumlah kalangan akademisi dan pengamat politik bahwa proses ini bisa dibayangi oleh kepentingan penguasa. Narasi sejarah yang ditulis ulang dinilai berpotensi diarahkan untuk membentuk persepsi publik tertentu, terutama menjelang tahun politik 2029.
“Sejarah adalah produk narasi dan kekuasaan. Pertanyaannya bukan hanya apa yang ditulis, tetapi siapa yang menulis dan untuk siapa,” ujar Dr. Ratna Kartikasari, salah satu sejarawan.
Langkah ini diumumkan oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebagai upaya memperbarui narasi sejarah nasional agar lebih objektif, komprehensif, dan sesuai dengan dinamika zaman.
Kementerian Kebudayaan menjamin bahwa proses penulisan akan melibatkan pendekatan ilmiah dan peer-review ketat. Naskah sejarah baru ini dirancang dalam berbagai versi, termasuk untuk pelajar, akademisi, dan publik umum.
Penulisan ulang ini dipandang sebagai momentum penting untuk memperbaiki literasi sejarah bangsa. Namun, di tengah tantangan menjaga netralitas, publik diimbau tetap kritis terhadap isi dan sumber sejarah yang akan dirilis.