PERUSAHAAN SEBESAR SRITEX TIBA-TIBA RUNTUH
Written by Radio Montini on Februari 28, 2025
Montiniradio – PT Sri Rejeki Isman Tbk. (Sritex), salah satu perusahaan tekstil terbesar di Indonesia, resmi dinyatakan bangkrut. Dampaknya lebih dari 50.000 karyawan yang kehilangan pekerjaan . (28/2/2025).
Sritex resmi dinyatakan pailit oleh Mahkamah Agung setelah gagal membayar utang triliunan rupiah. Perusahaan ini mengalami krisis keuangan parah yang membuatnya tidak lagi mampu beroperasi. Direktur Utama Sritex,Budi Santoso, mengatakan, “Kami sudah mencoba berbagai cara untuk menyelamatkan perusahaan, tetapi beban utang yang terlalu besar membuat operasional kami tidak dapat dipertahankan.”
Pemerintah & Serikat Pekerja berupaya mencari solusi untuk membantu para pekerja terdampak. Menurut Ketua Serikat Pekerja Sritex, Haryanto, “Kami tidak menyangka perusahaan sebesar ini bisa jauh secepat ini. Ribuan pekerja kini menghadapi ketidakpastiaan hidup.”
Krisis keuangan Sritex sebenarnya sudah terjadi sejak 2023, tetapi puncaknya terjadi pada awal 2025, ketika perusahaan gagal membayar utang dan akhirnya dinyatakan pailit. Penutupan pabrik terjadi di berbagai lokasi, terutama di Sukoharjo, Jawa Tengah, yang merupakan pusat produksi utama Sritex.
Ada beberapa faktor utama yang menyebabkan kejatuhan Sritex, Pertama utang yang membengkak, Sritex memiliki utang lebih dari Rp 10 Triliun akibat ekspansi besar-besaran yang tidak diimbangi dengan pemasukan stabil. Kedua turunnya permintaan global, pasar tekstil dunia mengalami penurunan drastis, terutama setelah pandemi dan resesi ekonomi. Ketiga persaingan ketat dengan produk impor, tekstil dari China dan Vietnam lebih murah dan lebih kompetitif di pasar Internasional. Keempat kenaikan harga bahan baku, biaya produksi melonjak akibat kenaikan harga kapas dan energi, sementara harga jual produk tidak bisa dinaikkan. Kelima salah strategi bisnis, Sritex terlalu fokus pada ekspansi agresif, tanpa mempersiapkan strategi bertahan menghadapi krisis ekonomi.
Menurut ekonomi Indonesia Faisal Basri, “Sritex melakukan ekspansi besar tanpa perhitungan matang. Saat krisis datang, mereka tidak punya cadangan dana yang cukup untuk bertahan.”
Kebangkrutan Sritex menjadi peringatan besar bagi industri tekstil Indonesia. Tanpa strategi bisnis yang kuat dan dukungan dari pemerintah, banyak perusahaan lain bisa mengalami nasib serupa. Apakah ini akhir dari kejayaan industri tekstil nasional, atau akan menjadi titik balik untuk perubahan? Hanya waktu yang bisa menjawab.
(N Denlino)