Ekspor Ditekan, Energi Dalam Negeri Jadi Prioritas Utama
Written by Radio Montini on April 10, 2025
Montiniradio – Pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis dengan mengalihkan lima kargo ekspor gas alam cair (LNG) untuk kebutuhan pembeli domestik pada April dan Mei 2025. Ini diambil sebagai respons terhadap meningkatnya kebutuhan energi dalam negeri yang terus melonjak. (09/04/2025).
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengumumkan bahwa alokasi LNG yang semula dijadwalkan untuk ekspor kini akan disalurkan kepada konsumen dalam negeri, terutama untuk sektor industri dan pembangkit listrik.
“Prioritas kami adalah menjaga kestabilan pasokan energi nasional. Ketika konsumsi domestik meningkat, ekspor harus dikaji ulang,” ujar Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto.
Pemerintah juga akan menyesuaikan ekspor gas ke Singapura, dengan mengalihkan sebagian volume dari pipa Sumatra ke wilayah Natuna. Mulai Juni 2025, ekspor melalui pipa Sumatra akan dikurangi sebanyak 30 juta standar kaki kubik per hari.
Keputusan ini diambil karena meningkatnya kebutuhan gas untuk pembangkit listrik dan industri manufaktur di beberapa wilayah, termasuk Jawa dan Sumatera. Selain itu, pemerintah menekankan pentingnya ketahanan energi sebagai pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, yang masih mempertahankan kuota ekspor LNG meski kebutuhan domestiknya naik, Indonesia memilih pendekatan berbeda. Pemerintah lebih mengutamakan suplai domestik meskipun harus menunda atau mengurangi ekspor.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, sebelumnya menyatakan bahwa strategi energi Indonesia kini berfokus pada keberlanjutan jangka panjang. “Kita tidak bisa hanya berorientasi pada pendapatan ekspor. Ketahanan energi adalah fondasi pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya dalam wawancara dengan CNBC Indonesia.
Langkah ini dinilai sebagai bentuk keberpihakan pemerintah terhadap rakyat dan industri dalam negeri. Namun demikian, tantangan ke depan tetap besar, mengingat Indonesia diprediksi membutuhkan tambahan 100–120 kargo LNG hingga akhir 2025.
Keberhasilan kebijakan ini akan bergantung pada percepatan pembangunan infrastruktur gas, peningkatan produksi hulu migas, dan efisiensi distribusi energi. Satu hal yang pasti, arah kebijakan energi Indonesia kini semakin jelas dari ekspor menuju ketahanan.