Terima Kasih Tuhan (Renungan Pagi: 02 Maret 2018)

Tracklist (1)

Details

Bumi merupakan ciptaan yang indah dan teratur yang diciptakan oleh Allah. Namun, faktanya saat ini malah sebaliknya. Banyak tempat di bumi ini tidak terlihat indah dan teratur lagi. Banyak sampah berserakan dan terjadi kerusakan alam di mana-mana. Ini menyebabkan terjadinya krisis lingkungan hidup. Kesadaran manusia untuk menjaga lingkungan pun sudah sangat minim. Allah sudah menciptakan bumi dengan sangat baik, tetapi manusia tidak merawatnya dengan baik. Manusia kurang berterima kasih atasnya.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur. Para penggarap ini dipercayakan oleh tuan kebun untuk menggarap kebun anggur sang tuan. Tuan kebun sangat mempercayai para penggarap, sehingga ia berani menyewakan kebunnya kepada penggarap-penggarap itu. Namun, penggarap-penggarap itu tidak setia kepada tuan kebun. Hasil kebun yang seharusnya menjadi hak tuan, tidak diterima olehnya. Malahan, utusan-utusan yang dikirim oleh tuan kebun dibunuh oleh para penggarap. Bahkan anak dari tuan kebun sendiri dibunuh oleh mereka, karena ia adalah ahli waris dari tuan kebun itu. Akhirnya, tuan kebun pun akan marah dan membinasakan para penggarap itu.

Dalam perumpamaan ini, Yesus mau mengajarkan kita untuk tahu berterima kasih. Manusia harus bersyukur dan bersikap penuh terima kasih atas berkat yang sudah diterima. Ini berbeda dengan para penggarap yang tidak tahu berterima kasih. Mereka sudah diberikan tempat untuk bekerja, tetapi tidak mau memenuhi kewajiban mereka. Para penggarap kebun angggur merupakan gambaran dari orang Farisi dan kita yang tidak tahu berterima kasih. Tuan kebun sebagai gambaran dari Allah Bapa, ahli waris yang dibunuh para penggarap merupakan gambaran dari diri Yesus, sedangkan kebun anggur yakni bumi kita.

Sang Khalik senantiasa memberikan berkat bagi kita. Salah satunya yakni bumi tempat tinggal kita. Ia sudah memberikan bumi yang indah bagi manusia. Ia pun hanya mengharapkan sikap terima kasih dari kita. Sikap ini dapat diwujudkan lewat tindakan menjaga, merawat dan melestarikan lingkungan. Sikap ini sangat penting demi kelangsungan kehidupan di bumi. Bila kita telah bersikap demikian, kita tidak menjadi seperti para penggarap yang serakah. Kita menjadi penggarap yang setia, yang menerima Yesus sebagai Tuhan dalam hidup kita. Sudahkah kita berterima kasih?

(Fr. Christiano Mandagi – Renungan Harian Lentera Jiwa)

Leave Comment (0)

%d bloggers like this:

Leave a Reply