Monthly Archives: Maret

Archives

Renungan: Selasa, 13 Maret 2018- Menjadi Alat Penyembuhan Tuhan

Renungan 13 Mar 18 0

Saudaraku terkasih.Kisah penyembuhan di kolam Betesda adalah sebuah kisah yang membuat hati pilu tapi di pihak lain mengharukan. Pilu hati kita mendengar bahwa orang yang sakit, dalam hal ini cacat, sudah 38 tahun menanti kesempatan untuk menyentuh air di kolam Betesda, tapi tidak bisa karena tak ada satupun orang yang membantunya untuk sampai ke kolam. Betapa mengharukan ketika Yesus datang ke kolam Betesda dan menawarkan kesembuhan pada si sakit ini. Akhirnya setelah 38 tahun menanti, ada orang yang peduli.

Saudaraku, apakah peristiwa seperti ini masih terjadi? Jawabnya: ya! Memang bukan lagi di kolam Betesda, tapi di banyak tempat, di mana orang-orang sibuk dengan urusannya sendiri, dan tak pernah mengulurkan tangan membantu orang yang susah dan sakit.

Semoga kita bisa menjadi salah satu dari orang-orang yang peduli. Marilah kita menjadi bagian dari alat penyembuhan Tuhan melalui uluran tangan kita. Paus Fransiskus mengingatkan bahwa tugas Gereja bukan terlebih untuk membuat pernyataan-pernyataan moral dan dogmatis, melainkan terutama untuk menyembuhkan dan menghangatkan hati begitu banyak orang yang terluka dan memerlukan kasih sayang sesamanya.

Ya Yesus, jadikan aku alatMu untuk membawa sesamaku kepada kesembuhan. Janganlah membiarkan, karena kelalaianku, anggota keluargaku, sesamaku, merasa diabaikan, tak diperhatikan dan terluka. Jadikanlah aku ya Yesus alat kesembuhanMu. Amin.

Pengenalan Sejati (Renungan Pagi: 05 Maret 2018)

Renungan 04 Mar 18 0

Sebuah pepatah klasik berbunyi, “Tak dikenal, tak disayang, tak disayang maka tak dicinta. Bahkan jika tak dicinta, maka pastilah hati dapat menolak kehadiran”. Pepatah ini relevan dengan situasi yang dialami Yesus di tanah kelahiran-Nya.

Injil menceritakan tentang penolakan Yesus oleh kaum-Nya. Penolakan ini menunjukkan mereka tidak mau menerima Yesus sebagai Mesias. Hal ini disebabkan karena mereka belum mengenal Yesus secara mendalam. Pengenalan mereka hanya terpusat pada Yesus sebagai anak Yusuf dan Maria. Anak dari keluarga sederhana. Dengan kata lain, mereka mengenal Yesus sebatas status sosial, sehingga panggilan dan tujuan kehadiran Yesus diabaikan oleh mereka. Hal itu nampak lewat sikap menolak dan tidak menghargai Yesus. Kita pun sering menolak Yesus lewat aktivitas yang tidak mencerminkan corak hidup-Nya sebagai teladan kita. Inijl ini menginspirasikan tiga hal penting sebagai pengikut Yesus. Pertama sikap pengenalan akan Dia. Pengenalan akan Yesus bukanlah hanya terarah pada status sosial, melainkan pada perutusan dan makna kehadiran-Nya. Yesus hadir dalam keadaan sederhana sebagai tanda kosolideran-Nya dengan manusia yang sangat sederhana. Kesederhanaan manusia nyata dalam ketergantungan dengan lingkungan, jabatan, sesama dan kepada Allah. Sederhana dan lemah menyebabkan manusia sering jatuh dalam dosa. Keadaan inilah yang menyebabkan Allah hadir dalam wujud manusia sederhana yaitu Yesus Kristus, Sang Mesias. Kehadiran Yesus merupakan upaya Allah untuk mengangkat kita dalam kesederhanaan supaya hidup kita bermakna dan menjadi sempurna sebagai anak-anak-Nya. Kedua adalah sikap mencintai Yesus. Cinta kepada Yesus berarti penyerahan diri secara total kepada-Nya. Penyerahan totalitas diri menunjukkan bahwa hidup sungguh disandarkan kepada penyelenggaraan Allah. Hal ini hanya terjadi apabila ada kesungguhan hati dalam mengenal Yesus dan menerima Dia sebagai Mesias. Ketiga adalah sikap mengikuti Yesus. Pengenalan dan cinta kita kepada Yesus membutuhkan bukti ataupun tindakan konkret. Sejatinya adalah kita dapat meneladani Yesus dalam mewartakan kebenaran. Hidup sebagai pewarta kebenaran menuntut kita untuk siap menghadapi tantangan, hinaan dan bahkan penolakan.

Sebagai pengikut Kristus, panggilan kita adalah melaksanakan kehendak Allah. Terkadang tantangan bahkan penolakan akan kita alami. Namun, Allah menghendaki kita untuk terus bertahan dan berjuang. Itulah bukti nyata pengenalan dan cinta kita kepada-Nya, sekaligus untuk itulah Yesus mengutus kita.

(Fr. Benediktus Basail – Lentera Jiwa)

Bait Allah (Renungan Pagi: 04 Maret 2018)

Renungan 03 Mar 18 0

Ada sisi lain dalam kehidupan manusia yang menunjukkan kurangnya penghargaan akan tubuh. Banyak orang merusak tubuh mereka dengan cara mengonsumsi rokok, miras, narkoba dan ada pula yang membuat tato pada tubuhnya. Hal ini seharusnya patut disesali. Sebab tubuh adalah aspek penting dari diri manusia. Yesus mengkritik cara hidup demikian. Seharusnya, kita menjaga tubuh kita untuk tetap sehat. Sehat jasmani dapat mengantar kita pada rohani yang sehat pula. Hendaknya kita menghadirkan Tuhan dalam diri kita, maka dari itu tubuh kita harus tetap sehat. Bagi Yesus sendiri, tubuh itu adalah Bait Allah.

Injil menceritakan tentang Yesus yang marah akibat orang Yahudi tidak menghormati Bait Allah. “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan” (Yoh. 2:16). Bait Allah dijadikan pasar dan bahkan praktek kejahatan lahir di Bait Allah karena adanya manipulasi harga barang. Bait Allah yang seharusnya menjadi pusat spiritual, simbol kehadiran Tuhan, sebagai identitas keyahudian dan karena itu harus sakral, ternodai oleh keegoisan dan kerakusan manusia. Yesus sendiri merasa terhina akibat praktek itu. Penghinaan terhadap Bait Allah menjadi penghinaan atas diri-Nya sendiri. Sebab bagi-Nya Bait Allah sama dengan diri-Nya sendiri. Yesus menantang orang Yahudi untuk merombak Bait Allah dan Ia akan membangunnya dalam tiga hari. Padahal, Bait Allah yang dimaksudkan Yesus yakni diri-Nya sendiri; Ia akan mati dan bangkit pada hari ketiga.

Diri Yesus adalah Bait Allah. Allah bersemayam di dalam diri-Nya. Maka, sebagai pengikut Kristus sudah sepantasnya kita menjadikan diri kita sebagai Bait Allah. Supaya diri kita menjadi tempat yang layak untuk Allah tinggal maka diri kita perlu dibersihkan setiap saat. Masa Prapaskah adalah saat yang tepat untuk membersihkan diri dari dosa. Ini kesempatan untuk mengintrospeksi diri. Mungkin kita belum mampu menjadikan tubuh kita sebagai Kenisah Allah. Kita seringkali merusaknya dengan mengonsumsi rokok, minuman keras, narkoba, dll. Kita mencemari diri dengan perbuatan cabul, keserakahan dan keegoisan. Belajar dari Yesus yang sungguh menghormati Bait Allah, mari kita menghormati diri sendiri dengan menyucikannya. Kita berusaha menghindari perbuatan yang merusak tubuh, agar Allah bisa hadir dan bersemayam dalam diri kita. Hidup kita pun akan sungguh-sungguh memancarkan kehadiran Allah.

(Fr. Simon Petrus Laian – Lentera Jiwa)

Santo Kasimirus, Pengaku Iman (Orang Kudus Hari Ini -04 Maret)

Orang Kudus Hari Ini 03 Mar 18 0

Putra kedua Kasimir III, Raja Polandia dan maharaja Lithuania ini, lahir pada tahun 1461. Keluarganya tergolong saleh dan taat agama. Ibunya, Elisabeth dari Austria, mendidik dia menurut tata cara hidup kerjaan dan hidup Kristiani yang berlaku pada masa itu. Setelah menanjak remaja, pendidikannya diserahkan kepada Yohanes Longinus. Kasimirus berkembang dewasa menjadi seorang putra Raja yang berhati mulia, murah hati, sopan dan ramah dalam pergaulan dengan sesamanya. Ia disenangi banyak orang terutama teman-temannya sebaya. Kecuali itu, pendidikan itu berhasil menanamkan dalam dirinya sikap yang tepat dan terpuji tersemarakan dan kemewahan duniawi. Bahwasannya semua kemewahan dan hormat duniawi itu bersifat sia-sia dan bisa saja menjerumuskan manusia kedalam keserakahan dan ingat diri.

Sikap itu terbukti kebenarannya, tatkala ia terlibat dalam suatu perkara politik yang terjadi di kerajaan Hongaria. Banyak bangsawan Hongaria tidak suka akan Matias, rajanya. Mereka datang kepada Kamisirus dan memohon kesediannya untuk menjadi raja mereka. Kamisirus mengabulkan permohonan itu dan segera berangkat ke Hongaria. Mendengar hal itu, Raja Matias menyiapkan sepasukan prajurit untuk melawan kerajaan Polandia. Tetapi perang tidak terjadi karena campur tangan Paus.

Dengan malu, Pangeran Kamisirus pulang ke Polandia. Peristiwa ini menyadarkan dirinya akan kesia-siaan hormat duniawi. Maka mulai saat itu ia meninggalkan cara hidupnya yang mewah dan kehormatan duniawi, lalu memusatkan perhatiannya pada doa, puasa dan tapa. Banyak waktunya di habiskan untuk berdoa. Pagi-pagi sekali ia sudah berdiri di depan pintu gereja untuk mengikuti perayaan Misa Kudus dan mendengarkan Kotbah. Ia juga lebih banyak memperhatikan kepentingan kaum kafir miskin dengan membagi-bagikan harta kekayaannya. Cinta kasih dan hormatnya kepada Bunda Maria sangat besar. “Omni die hic Mariae”(“Mengasihi Maria, kini dan selalu”) adalah semboyannya.

Semua usahanya untuk memusatkan diri pada doa, tapa dan puasa membuat dia menjadi seorang beriman yang saleh. Ia menjadi orang kesayangan warganya, terutama kaum miskin di kota itu. Ia meningal dunia pada tanggal 4 Maret 1484 karena penyakit sampar. Seratus dua puluh tahun kemudian, kuburnya di Katedral Wein di buka kembali dan relikuinya dipindahkan ke sebuah kapela. Tubunya masih tampak utuh dan menyebarkan bau harum. Tulisan doanya “Mengasihi Maria, kini dan selalu”masih terletak rapi di kepalanya. Hal ini menunjukkan bahwa devosinya kepada Maria merupakan suatu persembahan yang berkenan di hati Maria.

Terima Kasih Tuhan (Renungan Pagi: 02 Maret 2018)

Renungan 01 Mar 18 0

Bumi merupakan ciptaan yang indah dan teratur yang diciptakan oleh Allah. Namun, faktanya saat ini malah sebaliknya. Banyak tempat di bumi ini tidak terlihat indah dan teratur lagi. Banyak sampah berserakan dan terjadi kerusakan alam di mana-mana. Ini menyebabkan terjadinya krisis lingkungan hidup. Kesadaran manusia untuk menjaga lingkungan pun sudah sangat minim. Allah sudah menciptakan bumi dengan sangat baik, tetapi manusia tidak merawatnya dengan baik. Manusia kurang berterima kasih atasnya.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur. Para penggarap ini dipercayakan oleh tuan kebun untuk menggarap kebun anggur sang tuan. Tuan kebun sangat mempercayai para penggarap, sehingga ia berani menyewakan kebunnya kepada penggarap-penggarap itu. Namun, penggarap-penggarap itu tidak setia kepada tuan kebun. Hasil kebun yang seharusnya menjadi hak tuan, tidak diterima olehnya. Malahan, utusan-utusan yang dikirim oleh tuan kebun dibunuh oleh para penggarap. Bahkan anak dari tuan kebun sendiri dibunuh oleh mereka, karena ia adalah ahli waris dari tuan kebun itu. Akhirnya, tuan kebun pun akan marah dan membinasakan para penggarap itu.

Dalam perumpamaan ini, Yesus mau mengajarkan kita untuk tahu berterima kasih. Manusia harus bersyukur dan bersikap penuh terima kasih atas berkat yang sudah diterima. Ini berbeda dengan para penggarap yang tidak tahu berterima kasih. Mereka sudah diberikan tempat untuk bekerja, tetapi tidak mau memenuhi kewajiban mereka. Para penggarap kebun angggur merupakan gambaran dari orang Farisi dan kita yang tidak tahu berterima kasih. Tuan kebun sebagai gambaran dari Allah Bapa, ahli waris yang dibunuh para penggarap merupakan gambaran dari diri Yesus, sedangkan kebun anggur yakni bumi kita.

Sang Khalik senantiasa memberikan berkat bagi kita. Salah satunya yakni bumi tempat tinggal kita. Ia sudah memberikan bumi yang indah bagi manusia. Ia pun hanya mengharapkan sikap terima kasih dari kita. Sikap ini dapat diwujudkan lewat tindakan menjaga, merawat dan melestarikan lingkungan. Sikap ini sangat penting demi kelangsungan kehidupan di bumi. Bila kita telah bersikap demikian, kita tidak menjadi seperti para penggarap yang serakah. Kita menjadi penggarap yang setia, yang menerima Yesus sebagai Tuhan dalam hidup kita. Sudahkah kita berterima kasih?

(Fr. Christiano Mandagi – Renungan Harian Lentera Jiwa)

Santo Simplisius, Paus dan Martir (Orang Kudus Hari Ini -02 Maret)

Orang Kudus Hari Ini 01 Mar 18 0

Kisah tentang Simplisius tidak banyak di ketahui. Tanggal kelahirannya pun tidak diketahui. Yang tercatat tentang dirinya ialah bahwa Simplisius diangkat menjadi Paus pada tanggal 3 Maret 468, dan memimpin gereja hingga kematiannya pada tanggal 10 Maret 483.

Selama masa kePausannya, Simplisius dengan gigih mempertahankan primasi Tahkta Suci di Roma dan menentang bidaah Monophysitisme yang berkembang pesat di belahan dunia Timur. Reaksinya diungkapkan dalam sebuah surat kecaman yang ditujukan kepada Kaisar Basiliscus dan Zeno. Kecuali itu, di dalam surat itu pun, Simplisius dengan keras mengecam penangkapan atas diri Patriakh Aleksandria oleh Petrus Mongus dan Timotius Ailurus, pengikut aliran sesat itu; juga ia mengecam penangkapan atas diri Uskup Antiokhia oleh Petrus Fullo, penyebar ajaran sesat lainnya.

Kemartiran Simplisius dituliskan oleh Ardo dari Vienne dalam bukunya tentang martir-martir Roma yang dibunuh karena imannya kepada Kristus.

%d blogger menyukai ini: