Mohon Ampun (Renungan Pagi: 11 Februari 2018)

Tracklist (1)

Details

Pada hari ini kita telah mendengar bersama tentang orang yang menderita penyakit kusta. Dalam bacaan pertama, orang tersebut diasingkan karena dianggap najis, tetapi dalam Injil orang yang sakit kusta disembuhkan. Pada zaman dahulu kala, pandangan orang bahwa orang yang kena penyakit kusta merupakan bentuk hukuman dari Tuhan. Mereka mengatakan bahwa karena orang itu berdosa atau dosa dari keluarganya. Mungkin pandangan yang demikian juga masih tertanam dalam diri kita. Kita mungkin beranggapan bahwa orang yang kena musibah entah itu sakit, usaha bangkrut dan lainnya, semuanya karena mendapat kutukan atau hukuman dari Tuhan. Berpola pikir demikian sebenarnya tidaklah salah, karena hal ini juga dapat mengantar kita untuk lebih dekat dengan Tuhan. Namun kita harus sadar pula bahwa setiap kesalahan dapat diampuni oleh Tuhan Allah.

Dalam bacaan Injil tadi kita telah mendengar bagaimana Tuhan Yesus menyembuhkan orang yang sakit kusta. Hal ini karena orang kusta tersebut mau datang dan memohon kepada Yesus untuk disembuhkan. Demikianlah seharusnya kita, jika kita melakukan suatu kesalahan kita harus berani untuk memohon ampun. Kita harus berani mengatakan maaf kepada sesama dan terlebih lagi kita harus berani meminta ampun di hadapan Tuhan. Rasul Paulus juga mengatakan dan menekankan bahwa kita harus melakukan segala sesuatu demi kemuliaan Allah. Memohon ampun berarti kita mau mendekatkan diri kita dengan Tuhan. Kita mau agar dosa dihapuskan sebagaimana orang yang sakit kusta tersebut disembuhkan dengan memohon kepada Tuhan.

Dalam hidup di dunia ini, kita perlu memiliki kepercayaan bahwa dosa kita pasti akan dihapus, jika kita datang memohon ampun kepada Tuhan terlebih dalam menerima sakramen tobat. Dengan melakukan demikian, berarti kita menjadi orang jujur. Artinya, jujur mengakui kesalahan dan mengaku semuanya untuk kembali ke dalam pelukan Tuhan. Pemazmur pada hari ini mengatakan dengan begitu indah, “Bersukacitalah dalam Tuhan dan bersorak-sorailah, hai orang-orang benar; bersorak-sorailah hai orang-orang jujur.” Kita semua adalah orang-orang benar. Kita semua adalah orang-orang jujur. Maka, kita perlu menyadari akan kesalahan kita dan mau untuk datang memohon ampun kepada sesama dan terlebih kepada Tuhan.

Leave Comment (0)

%d blogger menyukai ini:

Tinggalkan Balasan