Pertobatan untuk Mewartakan (Renungan Pagi: 25 Januari 2018)

Details

Pertobatan selalu membawa orang pada suasana yang baru. Pertobatan selalu membawa perubahan. Pertobatan selalu juga menghadirkan rahmat bagi diri sendiri tetapi juga bagi orang lain. Pertobatan membuka mata dan hati orang untuk melakukan sesuatu yang lebih bernilai. Pertobatan pada akhirnya harus selalu juga melibatkan Allah di dalamnya. Kasih karunia Allah tercurah bagi siapa saja yang penuh kesadaran datang kepada Allah untuk bertobat dan menjadi lebih berkenan di hadapan Allah dan manusia.

Hari ini kita memperingati pertobatan Rasul Paulus. Kita boleh belajar mengenai arti sebuah pertobatan dari tokoh ini yang sebelumnya bernama Saulus. Sebelum bertemu dengan Yesus dan bertobat, ia adalah seorang pemeluk agama Yahudi yang taat dan sangat membenci pengikut Kristus. Saking bencinya dia terhadap murid-murid Kristus maka dia berjelajah kemana saja dan membunuh murid-murid Tuhan. Pertemuannya dengan Yesus telah mengubah hidupnya secara drastis: “Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: ‘Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?’ Jawab Saulus: ‘Siapakah Engkau, Tuhan?’ Kata-Nya: ‘Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Setelah itu “Tiga hari lamanya ia tidak dapat melihat dan tiga hari lamanya ia tidak makan dan minum.”Perjumpaan ini membawa makna yang sangat berarti dan mendalam bagi Paulus. Hati yang dikuasai oleh amarah, kebencian, dan dendam tidak berdaya di hadapan Tuhan yang mahakuasa. Sentuhan terang Tuhan mengubah Paulus.

Sungguh perjumpaan dan pengalaman spiritual ini telah membuka mati hati Paulus dan ia boleh bertobat dan sebagai bentuk balasan Paulus atas kasih Tuhan yang mengubah hidupnya maka Paulus memberikan dirinya dipanggil oleh Tuhan untuk memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa kafir dan dipilih Tuhan untuk melaksanakan perintah Tuhan. Sabda Tuhan kepada Paulus, “Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam!” (Kis. 18:9). Tuhan memiliki rencana indah atas hidupnya. Dalam melayani Tuhan Rasul Paulus bukanlah orang yang mengedepankan penampilan lahiriahnya, melainkan pada sesuatu yang ada di dalam dirinya: karakter, sikap dan kepribadiannya. Buah dari pertobatan Paulus menghasilkan komitmen untuk melayani Tuhan lewat pewartaan tanpa henti dan lelah. Kitapun bisa seperti Paulus; terajak terus untuk bertobat dan pada saat yang sama kita mewartakan Tuhan.

Leave Comment (0)

%d bloggers like this:

Leave a Reply