Berbuahkah Kamu? (Renungan Pagi: 24 Januari 2018)

Tracklist (1)

Details

Dalam kehidupan sebagai orang beriman, kita selalu menginginkan adanya perkembangan dan pertumbuhan dalam kehidupan kita. Perkembangan yang dimaksud bisa dalam bentuk apapun, entah berkembang dalam iman, pengetahuan, ekonomi, dan relasi. Segala usaha dilakukan oleh siapa saja agar dirinya dapat berkembang dalam hal-hal tersebut. Misalnya, seseorang ingin berkembang dalam pengetahuan maka ia harus belajar. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh hidup kita diarahkan untuk berkembang. Dan, perkembangan itu diharapkan boleh menghasilkan buah-buah yang berguna untuk kehidupan kita.

Injil hari ini mau mengungkapkan tentang benih ilahi yang sudah ditaburkan oleh Allah dalam hati manusia. Benih ilahi itu sudah diberikan dalam diri setiap orang, baik ia laki-laki, maupun perempuan. Tetapi, sering kali benih ilahi itu tidak ditanggapi dengan penuh keteguhan. Dalam perumpamaan ini dilukiskan bahwa Allah sudah memberikan dan menaburkan benih ilahi dalam hati manusia, tetapi cara menerima benih ilahi itu berbeda-beda. Ada hati yang mau menerima benih tanpa keteguhan dan ada hati yang mau menerima dengan penuh keteguhan. Hati yang menerima benih ilahi dengan penuh keteguhan akan berkembang besar dan menghasilkan buah-buah yang berlipat-lipat, sedangkan benih yang diterima dengan tanpa keteguhan akan mati dan tidak menghasilkan apa-apa.

Sebagai umat beriman Yesus sangat mengharapkan agar benih Ilahi yang ditaburkan harus berkembang dan menghasilkan buah berlipatlipat. Untuk menghasilkan buah yang berlipat-lipat kita diajak untuk bekerja keras dalam mempertahankan apa yang sudah ditaburkan dan mengembangkan apa yang sudah ditanamkan. Sama seperti jika kita ingin berkembang dalam pengetahuan, maka kita harus belajar. Demikianpun dalam iman. Jika kita ingin berkembang dan berbuah dalam iman maka kita harus memulai membiasakan untuk mendengar Sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya.

Melalui perumpamaan seorang penabur Yesus mengajak kita untuk menjadi orang beriman yang mau mengembangkan benih ilahi yang sudah diterima dari Allah. Sama seperti St. Fransiskus de Salles yang mau menjadikan hatinya tempat Allah bersemayam, serentak juga mau untuk melaksanakan kehendak Allah. Oleh karena itu, kita diajak untuk menjadikan hati kita sebagai tempat benih ilahi. Dengan begitu, kita dapat menjadi orang-orang yang mampu mempertanggungjawabkan, mengembangkan dan melaksanakan iman secara sungguh-sungguh. Dan, pada akhirnya menghasilkan buah yang berlimpah-limpah.

Leave Comment (0)

%d bloggers like this:

Leave a Reply